Mata adalah salah satu indera yang berperan penting dalam kehidupan. Mata berfungsi sebagai indera penglihatan yang juga erat kaitannya dengan keseimbangan dan komunikasi.
Sejak wabah Coronavirus melanda Indonesia dan dunia pada 2020 silam, hampir semua sektor kehidupan dijalankan melalui internet. Sehingga memicu pertumbuhan digitalisasi yang amat signifikan. Tidak terkecuali di lingkunagn lembaga pendidikan layanan khusus seperti Sekolah Luar Biasa.
Meningkatnya penggunaan gadget akibat digitalisasi, tentu memiliki dampak beragam. Ada yang bernilai positif, tapi tak jarang berakhir negatif.
Salah satu dampak negatif paling nyata dari digitalisasi ialah paparan sinar dari perangkat elektronik yang mengakibatkan mata mudah lelah. Dan apabila kondisi semacam ini terus berlanjut maka akan menyebabkan kekeringan pada mata.
Oleh sebab itu, agar fungsi mata tetap optimal dan aktivitas sehari-hari berjalan lancar tanpa drama mata kering, yuk, mulai hidup sehat dan rawat mata dengan penuh kasih 😇
💫 Nia dan Perubahan Dunia
Saat itu, ketika penyebaran Coronavirus semakin meluas di Indonesia, segala aktivitas dan kegiatan sehari-hari dibatasi. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah. Proses pembelajaran pun terpaksa dilakukan dengan jarak jauh. Begitu pula di sekolah Nia -Sekolah Luar Biasa.
Ada banyak sekali drama selama proses belajar dari rumah berlangsung. Dimulai dari tugas sekolah yang diluar ekspetasi, kurang akrab nya guru dengan teknologi serta terkendala waktu orang tua dalam mendampingi anak belajar karena juga harus bekerja dari rumah. Namun disaat yang sama, bonding antara saya dan dan Nia semakin kuat.
Sebagai kakak yang mendampingi proses pembelajarannya selama social distancing, saya jadi lebih tahu bagaimana perkembangan Nia dalam belajar dan sejauh mana motorik nya berjalan. Nia yang sebelum PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) terkesan oga-ogahan dalam belajar apalagi pergi ke sekolah, mendadak jadi aktif karena dibarengi dengan bermain. Istilah nya apa ya... hemmm.... learning while playing? Iya, itu!
Setiap hari sesuai jadwal belajar di sekolah guru akan mengirim bahan ajar untuk dikerjakan siswa di rumah melalui pesan pribadi kepada orang tua yang kemudian didokumentasikan proses belajar nya lalu dikirim ke Whatsapp grup kelas.
LATIHAN BINA DIRI
Di sekolah, Nia termasuk dalam kelas MDVI (Multiple Disabilities and Visual
Impairment), yaitu kelas untuk anak yang memiliki ketunaan ganda dengan salah satu
kombinasi berupa gangguan penglihatan. Misalnya, yang termasuk kelas MDVI ialah tuna netra sekaligus tuna daksa.
Sebenarnya, Nia adalah penderita Sindrom Down yang seharusnya menempati kelas Tuna
Grahita. Tetapi ada beberapa pertimbangan oleh guru dan kepala sekolah memindahkan
Nia ke kelas tersebut. Bagi saya, selagi baik untuk Nia tidak ada salahnya. Toh hanya sementara sampai observasi selesai.
Sekalipun kelas tersebut bukanlah
yang seharusnya.
Setiap hari, guru kelas akan mengirim bahan ajar untuk Nia kerjakan. Tentu dengan
pendampingan orang tua di rumah.
Minggu pertama social distancing diisi dengan tugas regular seperti menebali, menyalin
tulisan, menyimak video dan menempel.
Bergulir minggu kedua, tugas Nia sedikit berbeda. Kali ini melatih gerak motorik dengan
activity of daily living seperti merapikan tempat tidur, menyapu lantai, memasang kancing
baju dan merias diri.
FYI, selain menari dan bernyanyi, Nia juga gemar merangkai jilbab. Nia bisa
meniru aneka model hijab secara autodidak. Hasilnya rapi dan bagus. Saya saja kalah dalam bidang ini.
Nia suka memodifikasi aneka hijab sesuai keinginannya. Kadang juga, Nia suka
bereksperimen menggunakan kain jarik atau taplak meja... hehe
Demi keamanan Nia setiap kali bereksperimen, saya melarangnya menggunakan pentul maupun peniti. Sebagai
gantinya, Nia memilih karet rambut untuk merekatkan hijab dibagian dagu.
Serius, lho, gambar di bawah adalah hasil karya Nia selama beberapa menit di depan cermin.
Berbekal karet rambut dan taraaa.... bagaimana? Sudah mirip selebgram, belum?
Oh iya, selain dapat meningkatkan dan menumbuhkan kemampuan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam
menolong diri sendiri, latihan bina diri juga bermanfaat untuk melatih komunikasi dan
sosialisasi ABK
Contohnya, Nia akan meminta tolong untuk dicek apakah kancing yang dia pasang sudah
benar dan sesuai urutan (tidak ada yang melenceng).
Atau ketika sedang belajar dandan. Dia akan bertanya, apakah ini (menunjuk sebuah
peralatan kosmetik) boleh digunakan atau tidak. Tentu dengan "bahasa planet" yang hanya
dimengerti oleh penerjemah saja (read: saya atau ibu)
BELAJAR SABAR DENGAN MENGGAMBAR
Jika sebelumnya Nia selalu tidak sabaran dan merasa bosan setiap kali mewarnai sebab
pekerjaannya cenderung lama. Maka kini tidak lagi karena sejak belajar dari rumah waktu itu,
Nia akan mendapat pelajaran mewarnai setiap hari dari saya.
Lihatlah, usaha tidak pernah mengkhianati hasil, bukan? Perlahan hasil mewarnai Nia
mulai rapi dan teratur. Semangat Nia, kamu pasti bisa!
SHOLAT DAN MENGAJI BERSAMA YOUTUBE
Bukan hanya pembelajaran motorik dan kemandirian, Nia juga rutin menonton Hafiz cilik di Youtube. Pelajarn mengenai bacaan dan gerakan sholat pun sering kali mendapat contoh dari aplikasi tersebut. Tidak heran jika keluhan-keluhan kecil pada mata seperti, mata SEpet, PErih, LElah mulai nampak dan membuat Nia tidak nyaman. Apalagi Nia suka sekali mengucek mata... haduh. Akhirnya agar tidak muncul keluhan-keluhan lain, saya menerapkan screen time untuk Nia.
💫 Penyebab Yang Tidak Disadari
Sesuatu yang kecil dan ringan cenderung dinggap sepele. Hingga jika dibiarkan dapat merugikan bahkan membahayakan. Begitu pula dengan kebiasaan Nia mengucek mata. Hal sepele yang awalnya saya kira, "Ah, nanti juga berhenti kucek-kucek nya kalau gak main hp." Dan ternyata saya salah!
Meski sedang tidak menggunakan gadget,Nia tetap mengucek mata dengan alasan gatal atau kelilipan. Padahal kondisi udara di dalam rumah selalu terjaga. Nia juga jarang bermain di luar rumah sehingga dapat dipastikan kondisi mata yang dialami Nia disebabkan oleh paparan sinar biru.
Setelah dirunut, lalu diperoleh kecurigaan bahwa kebiasaan Nia mengucek mata kemungkinan akibat kelelahan mata digital atau digital eye strain yang kemudian merambat menjadi gejala mata kering karena terlampau sering diabaikan.
Menurut dokter spesialis mata, Niluh Archi, penggunaan gadget berkepanjangan dapat menyebabkan produksi air mata tidak stabil yang berujung pada gangguan kesehatan mata.
Screen time berlebihan memicu munculnya gangguan mata berupa digital eye strain yang kemudian mengakibatkan kemampuan berkedip mata menurun. Mata yang seharusnya berkedip sebanyak 18 kali setiap menit menjadi setengahnya. Pada akhirnya, mata yang tidak cukup mendapat pelumasan. Inilah awal terjadinya mata kering.
Diketahui, mata kering atau Dry Eye Syndrome adalah kondisi kekeringan pada mata akibat tidak terlumasi dengan sempurna. Ketidakstabilan produksi air mata menyebabkan kesegaran mata berkurang.
Tanda-tanda mata kering pada anak Down Syndrome sebenarnya serupa dengan orang dewasa, hanya saja proses penanganan pada anak-anak ini sedikit lambat karena gangguan komunikasi atau anak yang belum paham dengan tanda-tanda tersebut. Padahal risiko mata kering pada anak berpotensi menyebabkan mata silinder atau astigmatisme. Terlebih pada anak dengan sindrom down, digitalisasi dapat mempercepat munculnya gangguan mata kering.
Berikut gejala dan tanda-tanda umum mata kering yang perlu diwaspadai pada anak pun orang dewasa:
Mata merah
Mata berair
Mata seperti berpasir
Sensitif terhadap sinar matahari
Penglihatan kabur
Terdapat lendir disekitar atau didalam mata
Mata mudah lelah
Kesulitan berkendara dimalam hari
Sulit membuka mata saat bangun tidur
💫 Mengapa Anak-anak Istimewa Lebih Rentan Terkena Dry Eye Syndrome?
Pada anak-anak dengan sindrom down layaknya Nia, mata kering muncul lebih cepat, lebih berat, dan lebih sering kambuh. Hal ini dikarenakan bentuk mata yang khas dan otot kelopak mata yang lemah menyebabkan penguapan air mata menjadi lebih cepat.
Analoginya, menonton Youtube selama tiga jam pada anak biasa akan memberikan efek ringan tanpa keluhan berarti. Sedangkan pada anak Down Syndrome, menonton Youtube dengan durasi sama akan menyebabkan mata langsung perih, merah dan berpasir. Hal ini disebabkan oleh cadangan air mata yang dimiliki lebih rendah dibanding anak lainnya.
Dari hasil penelitian mahasiswa kedokteran Serbia pada tahun 2022 ditemukan 60.5% penyebab mata kering bermula dari digital eye strain yang berkepanjangan. Penyebab yang tidak disadari atau gejala kecil yang disepelekan berakumulasi menjadi sindrom mata kering
Sindrom ini sangat memengaruhi kualitas hidup sehari-hari, terutama pada anak Down Syndrome yang menggantungkan terapi, edukasi dan komunikasi melalui internet sejak Coronavirus.
📌 Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi Mata Kering?
Saat mata kering melanda, akan terjadi peningkatan kekentalan atau osmolaritas akibat mata tidak terlumasi dengan baik. Permukaan mata kemudian akan mengalami peradangan yang ditandai dengan 3 tanda umum, yaitu Mata SEpet, PErih, LElah atau SePeLe.
Mata SEpet
Mata SEpet sama halnya dengan sinyal alergi atau infeksi yang ditandai dengan mata merah, berpasir dan penglihatan kabur. Cara mengatasinya cukup tetesin Insto Dry Eyes agar mata kembali lembab.
Mata PErih
Mata PErih seringkali diikuti dengan rasa terbakar yang amat menyiksa. Pada kondisi ini, mata akan mengeluarkan air alias berair dengan sendirinya. Untuk mengurangi faktor risiko yang mungkin semakin parah, pemberlakukan screen time harus benar-benar disiplin. Dalam hal ini, Nia sangat kooperatif untuk mengikuti aturan yang saya buat karena sudah merasakan efek mata kering yang membuatnya tidak nyaman.
Mata LElah
Mata LElah akibat digital eye strain bisa diatasi dengan meningkatkan frekuensi berkedip selama menggunakan gadget. Pastikan juga posisi tubuh tetap ideal, yaitu sekitar 50-70 cm dari gadget.
Mata kering (Dry Eye Syndrome) atau yang dalam bahasa medis disebut keratoconjunctivitis sicca sebenarnya bisa diwaspadai sejak dini sesuai faktor pemicunya:
1| PRODUKSI AIR MATA BERKURANG
Salah satu faktor penyebab mata kering adalah jumlah produksi air mata yang menurun. Jumlah produksi air mata sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia, hormon, dan efek samping obat, seperti pil KB, obat jerawat, obat hipertensi, antidepresan, antihistamin dan dekongestan.
2| AIR MATA MENGUAP LEBIH CEPAT
Faktor lingkungan, seperti digital eye strain, polusi udara, angin, kipas, dan terlalu lama di ruangan ber-AC turut menjadi pemicu penguapan air mata lebih cepat dari biasanya.
3| KOMPOSISI AIR MATA TIDAK SEIMBANG
Penggunaan lensa kontak lebih dari delapan jam, penyakit autoimun (sindrom Sjogren), infeksi atau peradangan pada kelopak mata (blefaritis), penyumbatan kelenjar dan ukuran lensa kacamata yang sudah tidak sesuai bisa menjadi penyebab dry eye syndrome yang tidak boleh disepelekan.
Why?
Karena ketika gejala sindrom mata kering tidak kunjung mendapat penanganan yang tepat dan cepat, dapat menyebabkan komplikasi lebih serius.
📌 Kapan Harus Pergi Ke Dokter?
Kebiasaan Nia yang selalu mengucek mata setelah bermain hp cukup lama membuat saya yakin untuk benar-benar membatasi penggunaan gadget terutama saat weekend.
Senin sampai Jumat akan ada screen time sebagai jeda antara waktu belajar dan sekadar hiburan. Pada akhir pekan, latihan bina diri rutin dilakukan guna menjaga kemandirian dan keberanian Nia dalam menjalani hidup.
Meski sindrom mata kering tidak berbahaya dan bisa sembuh, namun mata SePeLe Jangan Disepelein! karena Nia termasuk anak istimewa dengan celah mata agak menyipit yang lebih rentan terkena sindrom ini.
Bantuan tenaga medis akan diperlukan jika gejala tidak kunjung reda atau muncul keluhan lain yang dianggap mengkhawatirkan. Tetapi hingga saat ini, ciri-ciri mata kering pada anak Down Syndrome yang dialami Nia dapat diatasi secara mandiri di rumah dengan cara berikut:
Skrining rutin setiap tahun untuk cek katarak, minus, silinder, masalah refraksi hingga pemeriksaan permukaan mata
Kompres air hangat ketika mata mulai sepet dan tidak nyaman digunakan belajar melalui gadget
Pemberian air mata buatan dalam bentuk tetes mata gel atau salep
Cara mengatasi gejala mata kering
💦 Insto Dry Eyes, Agen Penglihatan Untuk Anak-anak Istimewa
Kabar buruknya, penanganan mata kering pada anak Down Syndrome harus dibarengi dengan kontrol rutin ke dokter mata untuk deteksi dini penyebab lain seperti alergi, infeksi, atau kelainan kelopak. Kabar baiknya, ada obat tetes mata kering yang bisa jadi penyelamat tanpa harus pergi ke dokter.
Yups, INSTO DRY EYES. Solusi aman untuk mengatasi gejala kekeringan mata pada anak termasuk anak-anak dengan sindrom down.
Nia menggunakan Insto Dry Eyes sebagai pertolongan pertama di rumah setiap gejala mata kering sudah terasa. Ketika mata mulai kelelahan akibat aktivitas digial yang berkepanjangan, maka tetes mata steril Insto adalah solusi tepat.
Insto Dry Eyes sifatnya mirip body lotion. Jika body lotion bertugas melembabkan kulit, maka Insto Dry Eyes bertugas melembabkan mata yang kekeringan akibat kekurangan produksi air mata, terutama seperti yang dialami oleh penderita rheumatoid arthritis, keratoconjunctivitis dan xerophtalmia.
Setiap milikiter isotonik steril dalam #InstoDryEyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3.0 mg, yaitu senyawa aktif yang berfungsi sebagai pembuat air mata buatan. Sedangkan Benzalkonium chloride adalah jenis antiseptik yang berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur.
Sesuai indikasi yang tertera pada kemasannya, Insto Dry Eyes dipercaya dapat memberikan efek pelumas (pada mata palsu) serta meringankan iritasi pada mata akibat penguapan air mata yang berlebihan.
Insto Dry Eyes adalah merek lawas produksi PT Pharma Health Care (Combiphar) yang masih eksis karena sudah teruji kualitasnya. Produk ini kini hadir dengan kemasan baru, bentuk botol seperti tetesan air. Volumenya hanya 7,5 ml, mungil dan travel friendly. Tutup nya berbentuk ulir serta tidak akan pecah sebab terbuat dari bahan plastik sehingga aman dibawa bepergian atau masuk kantong.
Insto Dry Eyes aman untuk penggunaan harian dan mudah dicari karena tersedia hampir di semua apotek desa maupun kota, swalayan dan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart.
Saya selalu sedia Insto Dry Eyes di rumah sebagai langkah cepat pertolongan pertama ketika Nia mulai menunjukkan ciri-ciri mata kering akibat terlalu lama bermain gadget.
📌 Apakah Insto Dry Eyes aman untuk anak-anak?
Tidak ada batasan usia untuk penggunaan Insto Dry Eyes pada anak-anak termasuk anak berkebutuhan khusus. Namun harus tetap sesuai aturan, ya. Awasi saat pemakaian atau hentikan jika keluhan tidak juga mereda dan segera pergi ke dokter.
📌 Bagaimana cara meneteskan Insto Dry Eyes agar anak tidak takut?
Mudah, sekali. Berikut tips agar anak tidak takut pakai obat tetes mata:
Pertama cuci tangan terlebih dahulu
Lalu suruh anak rebahan dengan posisi terlentang dan kepala agak mendongak ke belakang
Ajak bercerita atau mengobrol untuk mengalihkan ketakutannya
Tetesin Insto Dry Eyes 1-2 tetes di kelopak bawah sebanyak 3 kali sehari atau sesuai anjuran dokter
Agar produk teteap steril dan tidak terjadi infeksi lainnya, tutup botol tidak boleh menyentuh mata atau permukaan lainnya.
💫 BERBEDA BUKAN BERARTI TAK SAMA
Nia adalah anak istimewa yang lahir dengan kelebihan kromoson 21. Penggunaan gadget untuk terapi, pembelajaran di sekolah maupun pendaping belajar di rumah sejak Coronavirus membuat Nia sering mengalami gangguan kesehatan mata.
Hal ini dikarenakan bentuk mata yang khas dan otot kelopak mata yang lemah sehingga menyebabkan penguapan air mata menjadi lebih cepat.
Selain screen time yang ketat, saya selalu sedia tetes mata steril #InstoDryEyes untuk pertolongan pertama ketika gejala mata kering menyapa tanpa perlu ke dokter.
Sebagai bentuk perawatan mata sekaligus pencegahan terhadap efek buruk sinar biru yang lebih serius, saya menerapkan beberapa hal di bawah ini kepada Nia -bisa juga diterapkan pada anak lain maupun orang dewasa, lho!
Minum air putih yang cukup
Terapkan gaya hidup sehat
Pakai humidifier jika kamar atau ruangan favorit di rumah menggunakan AC
Setelah menggunakan gadget cukup lama, kompres mata menggunakan air hangat selama 5 menit agar mata tidak bengkak
Jangan kucek mata karena akan menambah iritasi
Hindari AC langsung menghadap ke wajah
Makan makanan tinggi Omega-3, Vitamin A, dan Lutein (Khusus Nia yang tidak suka sayur dan buah, saya sediakan jus wortel setiap hari Minggu)
Cuci tangan sebelum menyentuh mata
Jangan tidur selagi make up belum dibersihkan
Pakai kacamata hitam jika keluar rumah pada siang hari atau ketika naik motor
Olahraga mata, ini PENTING sekali!
Istirahatkan mata dengan cukup
Sering berkedip (ajak berkedip dan suruh Nia berkedip)
Hidupkan perlindungan mata pada hp (dan layar akan berubah menjadi warna kuning sehingga lebih nyaman untuk mata)
Era digital mengubah kebiasaan anak terhadap penggunaan perangkat elektronik. Sebelum Coronavirus melanda, rata-rata gadget hanya sebagai media hiburan di rumah atau sesekali untuk berkirim tugas dengan guru.
Namun kini, penggunaan gadget tidak hanya fokus untuk edukasi, melainkan merambah pada kebutuhan terapi dan kegiatan lainnya yang menggunakan internet.
Akibatnya kesehatan mata mudah terganggu. Mata seringkali terasa SePeLe: SEpet, PErih dan LElah. Untuk mengatasi gejala mata kering seperti ini, dibutuhkan air mata buatan dari tetes mata steril agar mata tetap lembab.
Insto Dry Eyes menjadi pilihan saya untuk membersamai Nia menjelajahi dunia maya agar #BebasMataKering. Selain harganya tidak memberatkan kantong, produk nya juga mudah di dapat dan aman digunakan anak-anak, tak terkecuali penyandang Down Syndrome.
Ketika hidup harus bergantung pada gadget dan internet, #MataSePeLeJanganSepelein ya. Jangan pernah abaikan “alarm” dari tubuh agar mata senantiasa sehat dan berfungsi maksimal.
Hi, Welcome to Narasi Nia...
This blog about lifestyle and special needs that focuses on health, women's sundries and down syndrome...
Narasi Nia was released on July 20, 2020. Was written and edited by Elok Faiqotul Hikmah as the founder of Heizyi Network...
This blog also accepts all forms of compensation from advertisement, sponsorship, affiliates, competition, giveaway and other...
Contact: halo.mbaknia@gmail.com
Perkenalkan, Narasi Nia adalah blog seputar gaya hidup dan anak berkebutuhan khusus yang fokus membahas kesehatan, serba-serbi perempuan dan down syndrome.
Blog ini menerima segala bentuk kompensasi dari iklan, sponsorship, afiliasi, kompetisi, giveaway, dan lainnya.
Post a Comment
Post a Comment
Thanks for stopping by. Sila tinggalkan jejak berupa kritik maupun saran pada kolom komentar, ya 🤗 Regards 🙏